re: blog saya pindah alamat

September 22nd, 2008 by rezaaja

aslm.

kawan2.. dengan ini saya memberitahukan bahwa alamat blog saya pindah.

udah beberes angkut2 tulisan ke : www.reza-fathur.blogspot.com

ditunggu kunjungan dan commentnya ya=D

nuhun

Alhamdulillah ternyata pendapat saya dimuat..

August 13th, 2008 by rezaaja

Print   
Kirim
Ke Teman

Media Indonesia   Selasa,  05 Agustus 2008 00:01 WIB
Memberikan Makna Demonstrasi

HARGA
minyak dunia hingga saat ini masih bertengger di atas level US$100
walaupun pada beberapa pekan terakhir menunjukkan penurunan cukup
tajam. Ancang-ancang dipertunjukkan negara para penghasil minyak karena
pakar ekonomi memperkirakan harga minyak dunia akan menginjak pada
level US$200 pada penghujung tahun ini. Sebut saja Hugo Chavez
(Venezuela), presiden pengagum Fidel Castro tersebut melakukan upaya
nasionalisasi minyak.
Yang terjadi di negeri kita malah sebaliknya. Dengan becermin
pada 2005, pemerintah seolah kebakaran jenggot dengan menaikkan harga
BBM konsumsi di tingkat masyarakat. Antisipasinya adalah melakukan
program subsidi, itu pun berhasil dalam jangka waktu setahun.
Tangisan masyarakat yang kelaparan menyeruak di berbagai kota,
inflasi beranjak naik sementara angka pengangguran mengikuti,
pendidikan murah hanya jadi wacana ketika anak-anak putus sekolah
mengamen di perempatan jalan. Ironis, sebagian wakil rakyat seolah
menyembunyikan batang hidung mereka menandakan krisis kepercayaan
terhadap mereka.

Sejalan dengan itu, gerakan mahasiswa menentang kebijakan memanas.

Klimaksnya terjadi pada demo mahasiswa pada 24 Juni 2008 di Gedung
DPR, para demonstran melempari polisi dan merusak pintu gerbang DPR.
Mereka merusak sejumlah mobil. Bahkan, sebuah mobil berpelat
merah dibakar di depan Kampus Atma Jaya. Insiden itu melukai 21 orang.
Sebanyak 16 orang di antaranya polisi. Banyak pihak menyayangkan aksi
anarkistis tersebut.

Menurut Angga, 19, mahasiswa Hubungan Internasional Unpad Bandung,
menyesalkan kerusuhan demonstrasi di depan gedung DPR yang terjadi
beberapa waktu lalu. Baginya, tindakan tersebut mengarah pada
vandalisme, artinya perusakan sporadis yang diinginkan sekelompok orang
yang mungkin bisa jadi mencari perhatian media.
"Sejatinya tuntutan mahasiswa adalah meminta respons dari
pemerintah, tetapi saya tidak setuju dengan adanya perusakan dengan
cara membakar mobil pelat merah," ujar Angga yang juga aktif di
organisasi LMND Bandung.

Reza Fathurrahman, 23, mahasiswa Psikologi Unpad mengatakan dalam
kaitannya dengan demo anarkistis, itu sebenarnya sudah di luar batas
toleransi. Menurutnya, mahasiswa harus berhati-hati dengan
aliansi-aliansi yang saat ini banyak didirikan tanpa ada arahan yang
jelas, harus dapat memilah milah aliansi yang memang sejak awal berdiri
dengan tujuan dan arahan yang jelas, jangan berpihak pada aliansi yang
hanya berdiri karena momentum tertentu. "Seharusnya demo mahasiswa
kembali lagi kepada tujuan yang sebenarnya, demo yang dilakukan
harusnya proporsional, sesuai dengan kebutuhan," ujarnya.

Mengubah paradigma

Reza mengharapkan perlu adanya perubahan paradigma. Paradigma awal
pesimistis mengenai Indonesia harus perlahan-lahan diubah menjadi
sebuah optimisme. Optimistis bahwa Indonesia akan maju ke arah yang
lebih baik adalah pemikiran utama yang harus diterapkan pada benak
setiap warga.
Selain itu, pendidikan yang lebih baik lagi harus dapat
diterapkan di masyarakat. Masyarakat harus mendapatkan pendidikan yang
baik sehingga mereka dapat ikut serta dalam pembangunan bangsa.
Mahasiswa memiliki potensi ketulusan untuk membangun bangsa,
potensi itulah yang harus dikembangkan. Masyarakat jangan terlalu
reaktif sebelum paham terhadap apa yang ingin disampaikan dari sebuah
demo mahasiswa. "Pemerintah dan masyarakat jangan terlalu cepat
mengambil kesimpulan dan menggeneralisasikan sesuatu sebagai sesuatu
yang mutlak," ujar Reza.

Kedua, demo yang dilakukan harus proporsional. Sebelum melakukan aksi penyusunan konsep harus matang, bahkan the worst planning (rencana terburuk) harus disiapkan. Pelajari ilmu komunikasi massa dan propaganda dan bina jaringan dengan benar.

Sementara itu, bagi dosen sosiologi Stikom Bandung NR Ruyani Ssos
Msi, perilaku demonstran yang menunjukkan sisi kekerasan adalah sebuah
perilaku emosional. Artinya, individu maupun kelompok mencoba untuk
menghindarkan dirinya untuk disalahkan. "Kebanyakan demonstrasi
dilucuti sikap emosional individu demonstran, gejala itu yang sering
muncul saat demonstrasi berujung rusuh."

Demonstrasi terimbas oleh disosiatif, artinya hubungan yang
merugikan. Simak saja akibat ulah para demonstran yang berujung rusuh,
secara materiil perusakan terhadap sarana dan prasarana negara hanya
menimbulkan kesia-siaan.
Sejatinya, demonstrasi membutuhkan pengendali yang tepat. Petugas
keamanan harus bekerja secara profesional, artinya mereka sebagai
pengendali sosial. Para demonstran yang brutal diberikan efek jera pada
perilaku yang tidak terpuji. Hal itu agar tidak menjadi buah
simalakama. "Masyarakat menjadi bingung menilai aparat dan mahasiswa
saat kerusuhan terjadi," ujar Ruyani. Huyogo, Astri/T-1

“ternyata dunia masih berputar…”

October 26th, 2007 by rezaaja

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah ternyata dunia memang masih berputar..

segala puji bagimu Tuhan, kembali aku pada titik ini.. sebuah titik untuk kembali. kembali menghadapi diriku sendiri,bersama dengan orang lain.

kini aku akan mengatur kembali perjalananku.. bersama teman2ku.

melewatinya bersama seperti sedia kala=D

Dunia memang masih berputar, tiada waktu untuk menunggumu berdiri tertegun terdiam terpaku.

ini jamannya globalisasi bung! era modern di mana siapa pun bisa mengendalikan segala sesuatunya dengan kepala!

bila kepala,hilangkah hati?

kepercayaan kini perlahan memudar.. tapi itu pertanda bahwa ujian itu saat ini kembali datang untuk menyapamu lebih baik lagi=D menanti sebuah kepercayaan yang jauh lebih besar lagi.

yah.. aku pernah mengalaminya dahulu.. dahulu sekali. semuanya menghadapkanku kembali pada diriku sendiri.

Ya.. diriku dan segala kesempatan yang mungkin hanya kumiliki saat ini. satu pertanyaan:

"mampukah engkau mengatasi dirimu sendiri kawan?"

ingatlah baik2 untuk menikmati hidup ini. perjuanganmu kini memang belum bertepi, senantiasa mengondisikanmu untuk selalu melangkah lebih maju.

tapi apabila boleh kusarankan,manfaatkanlah waktumu lebih baik lagi.penuhi kembali rongga2 yang masih menganga.

ini demi kebaikanmu kawan=D

mari berputar bersama2 dengan putaran dunia yang luar biasa!

Thanx to all of you guys!

April 25th, 2007 by rezaaja

Assalamualaikum..
Teman2, makasi banyak atas segala bantuan yang teman2 berikan di masa-masa kampanye selama 2 minggu kemarin.. entah bagaimana jadinya kalo ga ada teman2 semua, mungkin segalanya ga akan berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan..

saya sangat menghargai setiap jerih payah teman2, keletihan teman2, dan terlebih pada keikhlasan teman2 untuk membantu saya melewati hari-hari penuh perjuangan kemarin..
seringkali semangat kalian yang begitu luar biasa, membuat saya tersadar untuk memacu diri lebih kencang lagi..
terima kasih atas limpahan curahan energi positif yang senantiasa menghiasi..

kehadiran teman2 membuka mata saya bahwa dunia ini ternyata tidak sesentris yang saya kira.. bahwa ternyata dunia masih memiliki orang2 yang penuh dedikasi membantu sesama dengan penuh sukacita..

Tetap istiqomah ya!
Semoga Allah memberikan balasan yang terbaik dan berlipat ganda untuk segala kebaikan yang teman2 berikan!

semoga silaturahim ini tetap terjaga hingga akhir nanti.amin ya rabbal alamin.

eVaLuasi LuaR daLam..

April 25th, 2007 by rezaaja

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Akhirnya akan tiba esok hari di mana saya akan mempertanggung jawabkan segala tindak-tanduk kami di BEM Fapsi 67 selama satu periode kepengurusan kami yang berlangsung lebih kurang 11 bulan..
satu periode pembelajaran yang luar biasa bagi kami untuk memberi manfaat bagi sesama.. kami menyadari bahwa segala jerih payah kami begitu jauh dari sempurna. banyak hal yang belum berjalan dengan optimal dalam menjalankan amanah kami selama satu periode ini yang masih perlu untuk ditingkatkan kembali.. di sisi lain terdapat pula kemajuan-kemajuan atau pun perubahan-perubahan yang terjadi dalam kepengurusan kami apabila kita mau melihat lebih luas lagi.

evaluasi selayaknya dilakukan dari dua sisi.. "luar dan dalam". keduanya harus padu, seimbang untuk menciptakan sebuah keharmonisan. sebuah semangat untuk saling memperbaiki sesama.

"sisi luar"  seringkali menjadi sisi favorit kebanyakan kita. sisi ini memang lebih mudah untuk kita lakukan. mengapa? karena objek kita adalah pada hal yang ada di luar kita. Entahlah seringkali kita terjebak pada satu sisi dalam menilai bagaimana kinerja seseorang  ataupun sebuah tim berlangsung. Manusia (dalam asumsi saya) senang melihat sisi buruk yang dimiliki oleh yang lain, kurang memberikan porsi yang cukup untuk melihat sisi positif orang lain. Kemauan untuk mengapresiasi kemajuan dan keberanian untuk mengakui kesalahan (sebagai sebuah itikad baik untuk senantiasa memperbaiki diri) adalah prasyarat mutlak bagi kemajuan bersama. Kemajuan yang membuat kita semua maju lebih baik dari sebelumnya.

adapun sisi "dalam" analog dengan jari tangan kita ketika kita menunjuk dengan jari telunjuk kita orang lain dalam melakukan sebuah penilaian.. satu jari menunjuk orang lain, sementara jari2 yang lain menunjuk kepada kita. ketika kita menyadari hal ini, maka selayaknya kita senantiasa berkaca mengevaluasi siapa diri kita yang sebenarnya.. kemudian muncullah pertanyaan-pertanyaan yang menilai diri, apakah aku sudah menjalankan apa yang aku katakan? sudahkah aku melihat diriku sebelum aku?
tetapi hati2, hanya melihat pada sisi "dalam" saja juga bukanlah suatu hal yang baik. mengapa? karena bila kita terjebak hanya pada sisi ini, kemungkinan besar kita hanya akan menjadi seseorang yang rendah diri, senantiasa menyalahkan diri sendiri dan malu untuk mengingatkan yang lain karena senantiasa merasa kurang dengan keberadaan diri.
Disinilah letaknya seni dalam mengevaluasi. seimbangan "luar dan dalam"..

anyway, terima kasih dan penghargaan luar biasa saya tujukan kepada rekan2 seperjuangan (BEM 67, BPM 67, KMMP, seluruh KK) atas kerja keras, kesabaran dan kemauannya untuk berlomba-lomba memberi arti bagi indahnya kampus psikologi unpad tercinta yang jauh lebih baik lagi..

Selamat berjuang dan berkarya bagi  rekan2 perjuangan periode 78, semoga Allah senantiasa merahmati dalam setiap langkahmu!

saatnya untuk bergerak!!

Apakah Dunia ini hanya Aku dan Aku?

March 16th, 2007 by rezaaja

dengan namaMu yang jiwaku berada ditangannya..

kian lama kian diperhatikan ternyata dunia ini semakin individualis ya..
ketika tiada lagi yang namanya perhatian terhadap sesama, pokoknya diri kita sendirilah yang paling penting. orang lain? peduli amat..

entah apa yang salah pada jaringan2 otak yang berkembang di kepala kita..
apakah pola makan kita, pola asuh kita atau mungkin juga pola hidup kita yang semakin tidak jelas dengan ramainya film2 a.k.a sinetron2 yang benar2 mengubah paradigma kita akan arti sebuah nurani..
kita menjadi terbiasa untuk hidup seenak’e dewee, ngapain mikirin orang lain susah2..
padahal apabila kita mau berpikir sejenak, bagaimana andaikan kita berada pada posisi orang yang sedang membutuhkan bantuan?
mungkin saat ini kita bisa saja acuh tak acuh terhadap keadaan orang lain, tetapi mungkin yang perlu kita tanyakan pada diri kita sendiri saat ini adalah : apakah ada orang yang akan menolong kita ketika suatu saat nanti kita membutuhkan bantuan??

apakah selalu saja kepala kita harus ‘terbentur’ dahulu baru kemudian kita tersadarkan bahwa ternyata kepedulian terhadap sesama adalah suatu hal yang sangat penting dan mendasar di dalam kehidupan manusia? tidak cukupkah kita belajar dari pengalaman orang2 di sekitar kita yang baru tersadar bahwa setiap kita butuh untuk ditolong dan menolong?

kemanakah perginya nurani kita?
apakah kita jual nurani kita dengan harga murah untuk rasa gengsi kita yang begitu mulia? ataukah kita gadaikan rasa peduli kita, kita bekap dalam2 mengacuhkan berbagai hal di sekeliling kita?

masih teringat di dalam kepala saya dua kejadian yang entah kenapa terasa begitu miris di hati…

beberapa waktu yang lalu ketika saya hendak berkunjung ke tempat salah seorang teman, saat itu langit sedikit gelap pertanda hujan sebentar lagi akan turun. benar saja, ketika saya baru saja sampai di halaman tempat teman tersebut hujan pun mulai turun setitik demi setitik dan semakin lama semakin deras..
terlihat 2 buah sepatu yang tampaknya akan kehujanan apabila tidak segera dipindahkan ke tempat yang terlindung atap. beberapa saat kemudian keluarlah seorang mahasiswi yang mencoba menyelamatkan sepatu tersebut.. tapi apa yang ia lakukan?ia hanya menyelamatkan sepatunya sendiri!!!

padahal sepatu lainnya yang berjarak tidak sampai satu meter dari sepatunya berisiko untuk terkena hujan dan basah.. tapi apa yang ia lakukan? dengan langkah kemayu ia angkat sepatunya sendiri meletakkannya di tempat yang teduh dan kembali masuk ke dalam tanpa sedikit pun tergetar hatinya untuk membantu mengangkat sepatu yang dekat darinya, yang mungkin hanya akan menghabiskan waktu beberapa detik saja untuk mengangkatnya..
tapi apa yang ia lakukan? fuihh… ia hanya sibuk memikirkan dirinya!!!
sedih sekali rasanya menyaksikan fenomena ini di depan mata kepala saya sendiri..

saya tau, mungkin ia tidak kenal siapa pemilik sepatu itu.. ia juga bukan teman pemilik sepatu itu.. tapi apakah atas dasar ini ia tidak mau menyempatkan barang beberapa detik saja untuk membantu memindahkan sepatu saudaranya yang lain?
semoga Allah memberikan cahaya kepada hatinya untuk tergerak menolong sesama. amin

Kali lain ketika saya sedang berjalan melintasi JATOS, salah satu mall di kawasan pendidikan jatinangor, ketika itu salah satu pembatas jalan yang berbentuk kerucut berwarna orange menyala terjatuh dan tergeletak di tengah jalan. Hal ini tentu saja menghambat laju kendaraan yang melintas. Tidak beberapa jauh dari situ, seorang pemuda tampak mengobrol dengan santai dan seorang tukang ojek sedang menunggu mahasiswa yang mungkin memakai jasa motornya.tetapi keduanya sama sekali tidak bergeming dari posisinya melihat pembatas jalan itu aral melintang di tengah jalan dan menghambat laju kendaraan..

tidak terlintas sedikit pun di kepala mereka, bahwa mungkin mereka bisa membantu untuk mengangkat pembatas jalan yang tidak terlalu berat tersebut ke pinggir jalan.. bukankah bagi umat muslim usaha untuk menyingkirkan halangan di tengah jalan ke pinggir adalah juga bagian dari iman? kemana perginya budi pekerti orang2 indonesia yang dikenal ringan tangan dalam membantu sesama?

inilah kenyataan di depan mata kepala kita sendiri.
apakah kita termasuk orang2 yang mengabaikan nurani?
bila ya, maka sekarang lah saat nya yang tepat untuk kembali menata diri..
Sungguh Islam itu dibangun atas dasar kasih sayang kepada sesama manusia..
Jadi beranikah kita untuk mengubah diri kita ke arah yang lebih baik?

walahu’alam

Masa-Masa Terakhirku..

February 6th, 2007 by rezaaja

bismillah…

tak terasa 2 bulan lagi aku akan mengakhiri langkahku di BEM Fakultas Psikologi Unpad. Banyak cita, banyak rasa, banyak suka dan duka yang aku alami di dalamnya. berbagai hal yang terjadi seringkali mengundang banyak tanya dan memancing munculnya seribu satu jawaban untuk menjawabnya.

begitu banyak hal yang telah kupelajari di sini.. hal-hal yang mungkin tidak mungkin kupelajari
pabila aku saat itu, satu tahun yang lalu, tidak memutuskan untuk mengambilnya dan secara bersamaan melepas berbagai rencana kebahagiaan yang sudah kususun matang-matang di luar kampus. sebuah langkah yang sama sekali tidak masuk dalam daftar hidupku tiba-tiba masuk menyusup ke dalam salah satu  rentang waktu masa hidupku. aku tidak pernah menyesali apa yang telah terjadi. adalah sebuah keniscayaan bahwa setiap keputusan akan membawa sebuah konsekuensi. itulah salah satu hal yang aku pelajari selama berada disini, di kampus ini.

setelah usai memasuki tahun kedua periode kepengurusanku di fapsi unpad tercinta, aku (seperti layaknya kawan-kawanku seangkatanku waktu itu) merasa ingin lepas dari segala kepenatan yang perlahan-lahan memasuki sela-sela ruang otakku. aku ingin bebas dari segala aroma kampus, aku ingin berkarya di tempat lain. di saat yang bersamaan, aku pun menjadi begitu sedih karena kakak-kakakku yang kuanggap begitu kompeten perlahan satu per satu meninggalkan kampus untuk melangkah menuju fase kehidupan selanjutnya. bingung aku dibuatnya. tiada lagi kawan untuk teriak-teriak seperti dahulu.. siapa yang akan menemaniku bersuara nyaring seperti dulu? begitulah pikirku saat itu. maka aku pun memutuskan untuk beristirahat dan menjauhkan diri dari segala hal yang berbau ‘organisasi kampus’.  aku ingin fokus  belajar, kuliah, dan  tentu saja menjalankan berbagai hal  yang menantang yang mungkin akan aku temukan di luar sana.

ketika itu aku duduk di sebuah kantin di kopma unpad bersama salah seorang seniorku yang dahulu juga pernah aktif di keorganisasian kampus. pada saat itu sebenarnya aku hanya menemaninya duduk-duduk di sana sembari menikmati sebotol minuman ringan dingin melepas dahaga. di saat itulah, berhadap-hadapan kami berbicara ngalor ngidul dan entah bagaimana sampailah juga pada topik itu. aku mengatakan padanya bahwa aku akan segera pensiun dari kampus dan mulai beristirahat dari segala kegiatan kemahasiswaan kampus. ia malah menanggapiku dengan dingin dan berkata: "gw pengen liat berapa lama elo tahan ga ngapa-ngapain!". dan benar saja.. aku tidak tahan untuk berlama-lama berdiam diri! pegal rasanya punggung ini jika harus seharian berada di kosan tanpa melakukan apa-apa.. aku rindu suasana itu.. suasana ketika kepalaku berdenyut-denyut, kewalahan memikirkan apa yang harus kami lakukan untuk mengatasi tantangan yang datang menghadang.

aku mencoba kembali merenungi keputusan itu.. mencoba mencerna kemana aku akan melangkah selanjutnya. aku bukan seorang masokhis yang senang menerima segala macam bentuk kesakitan yang menggores luka pada diri.. namun aku juga enggan menjadi seorang apatis yang acuh tak acuh berusaha mengaburkan segala realitas menjadi sebuah utopia. lalu aku ingin menjadi apa? bingung aku saat itu.. mungkin aku hanya ingin menjadi diriku apa adanya. mencoba memahami kembali diriku apa sebenarnya mauku. itu! tidak lebih tidak kurang.

dan entah apa yang membentur kepalaku pada saat itu, aku pun bertekad untuk menjadi generasi penerus kakakku yang kuanggap "hebat" itu.. dan bahkan aku bertekad bahwa aku harus lebih "hebat" lagi. tiada lagi waktu toleh kanan dan kiri menunggu-nunggu kalau-kalau ada orang yang akan muncul menggantikan mereka. aku yang akan menggantikan dan meneruskan perjuangan mereka. begitulah sombongku kala itu, yang kuiringi dengan segala kerendahan diri bahwa aku hanyalah seorang hamba biasa yang mencoba untuk menjadi lebih dari biasa.

fenomena ini kembali kulihat kembali di kampusku tercinta pada diri adik-adikku kini yang hampir usai menjalankan 2 tahun periode kepengurusannya di kampus tercinta ini.. gejala yang sama juga membayangi mereka untuk segera hengkang dari segala bentuk keorganisasian di kampus ini. banyak sekali rupanya.. ada yang bilang bahwa ‘aku ingin fokus belajar’.. sementara yang lain berkata, "’aku sudah tidak sanggup lagi’.. dan ada beribu macam alasan khas yang terlekat pada kepala mereka. aku hanya bisa tersenyum melihatnya. persis seperti aku dulu. begitu pikirku. tapi aku merasa begitu sedih ketika tidak ada seorang pun yang mau menjawab tantangan dan memutuskan untuk meneruskan apa-apa yang telah aku lakukan selama hampir satu tahun ini.. tiada kelegaan yang meresap di dada ketika aku harus meninggalkan kampus ini. siapa yang akan meneruskan perjuangan ini? haruskah hal-hal yang sudah tertata dan tercapai, dirintis satu persatu oleh keringat dan jerih payah orang-orang terdahulu sebelumku harus sirna begitu saja dan kembali ke zaman batu?

Tuhan, izinkan aku bertanya pada diri.. salahkah aku bertanya seperti ini? adakah sombongku yang justru datang menghampiri? jika benar begitu adanya, mohon Engkau cabut hingga ke akar-akarnya dari tubuh lemahku ini. Tuhan, mohon berikan petunjukMu..

dua bulan lagi masaku.. apa yang telah aku lakukan? apa yang belum aku lakukan? bantulah aku untuk mengajak teman-temanku untuk mengerahkan segala daya dan upaya untuk memberikan yang terbaik bagi kampus ini. luruskan segala yang bengkok.. teguhkan segala yang rapuh.. sepenuhnya aku mohon padaMu, rahmatilah mereka semua. berikan kami kekuatan untuk menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya.. dengan penuh keikhlasan dan semangat untuk senantiasa berbagi dan memperbaiki diri.
kami ingin lebih baik lagi!

hidup ini adalah pilihan.. setiap orang memiliki perannya masing-masing. jadi.. peran apa yang akan kita jalani?
apa pun peran yang kita jalani hendaknya kita lakukan dengan penuh keikhlasan..
kepongahan dan kemarukan yang menahun pada diri yang telah dan akan membuat bangsa ini  semakin hancur berantakan..
dan keniscayaan.. harus ada orang-orang seperti kamu dan aku yang mengambil bagian di sisi ini.
sadarilah diri, lakukan apa-apa yang kamu senangi dengan penuh keikhlasan. tapi ingat bahwa waktu tidak akan pernah sudi berhenti menanti kita untuk berpikir lebih lama lagi.
jadi ambillah saat ini.. sebelum saat ini menjadi masa yang lalu..=D

semangat!! semoga Allah selalu senantiasa merahmatimu dan aku.amin

sebuah titik penuh makna..

February 6th, 2007 by rezaaja

dengan namaMu yang menguasai segala yang berjalan di muka bumi ini…

kehidupan penuh makna adalah impian yang diinginkan hampir sebagian besar orang
di muka bumi ini. bagaimana ya rasanya ketika kita sudah mencapai sebuah titik ketika kita
merasa bahwa kita telah memaknakan hidup ini secara lebih berarti?

yang pasti "titik" itu tidak berarti bahwa kita telah berpuas diri dengan segala hal yang ada
pada diri, namun justru senantiasa dinamis mencoba untuk senantiasa menjadi lebih baik lagi
dari sebelumnya tanpa menafikan keberadaan kita secara utuh sebagai seorang manusia dengan
segala kelebihan dan kekurangan yang melekat pada diri. titik. tidak lebih tidak kurang.
bagaimana kita menyikapi hidup ini secara lebih positif, bahkan hal yang pahit sekalipun
menjadi manis karena kita dapat menyikapi dan mengambil hikmah yang terkandung di dalamnya
dengan penuh keikhlasan..

berat memang untuk melaksanakannya.. hari demi hari berbagai tantangan datang silih berganti.
terkadang terasa bahwa tantangan itu terasa begitu ringan sehingga kita masih bisa tersenyum
manis sembari berjalan menjawab tantangan yang menghadang.. namun kadangkala pula, kita
terpaksa menahan mulut kita rapat-rapat meringis menahan aliran tantangan yang terasa begitu
berat menghadang.. tapi bukankah Tuhan tidak menimpakan kesulitan pada hamba-Nya kecuali
ia mampu mengembannya?

seringkali saya merasa bahwa beberapa teori untuk membuat hidup ini menjadi lebih bermakna
sudah terekam dengan jelas di dasar kepala ini.. sangat personal memang.namun, ternyata begitu sulit rasanya untuk mencoba menghayati, meresapi, dan mewujudkannya dalam kehidupan nyata ini.. perlu keikhlasan untuk mengendalikan diri, menahan segala bentuk kesenangan yang seringkali mengelabui diri untuk menembus batas kesadaran diri yang selama ini menghantui kita..
ya.. batas. batas inilah batas yang kita buat sendiri dan membatasi kemampuan kita untuk hanya
bergerak di area itu-itu aja. inilah yang disebut dengan ‘comfort zone’; sebuah zona nyaman
dimana kita merasa begitu aman berada di dalamnya. sebuah kenikmatan semu yang sebenarnya
bisa melenakan.

beberapa hari yang lalu saya menonton sebuah film yang berjudul "1 litre of tears". sebuah film
yang menurut penuturan beberapa teman saya mampu untuk membuat orang sangar sekalipun
akan berubah menjadi begitu melo dan bercucuran air matanya menyaksikan perjuangan yang
sang tokoh lakukan dalam meneruskan hidupnya..

film ini adalah sebuah kisah nyata tentang perjuangan seorang remaja perempuan jepang yang mengidap penyakit SCD (penyakit yang berhubungan dengan sumsum tulang belakang dan mengakibatkan otak kecilnya perlahan-lahan mengecil) yang belum ditemukan obat untuk menyembuhkannya.
pada saat itu ia berumur 15 tahun, seorang remaja energik penuh semangat menjalankan berbagai
aktivitasnya sehari-hari. hingga kemudian ia menyadari bahwa ia memiliki penyakit tersebut dan
hanya memiliki waktu beberapa saat lagi sebelum ia benar-benar tidak lagi mampu berjalan,
berkata-kata dan hanya dapat terbaring dengan lemas di atas tempat tidur menanti ajal tiba.

luar biasa. itulah kata yang bisa saya ucapkan mengomentari apa yang dilakukan oleh perempuan
tersebut. semangatnya yang begitu luar biasa mampu mengatasi berbagai keluhan yang ia miliki
sebagai seorang manusia biasa dengan segala kekurangan yang ia miliki. lagi-lagi hal ini berujung
pada kata "aku ingin memiliki makna bagi orang lain.. bermanfaat bagi orang lain".
kembali saya tertegun dibuatnya.. mengapa kembali kepada kata ini?

saya pun kembali teringat pada kisah prof. Morrie yang juga mengalami hidup yang hampir sama
dengan apa yang dialami tokoh dalam film 1 litre of tears tersebut. Kehidupannya berubah ketika
ia mengetahui bahwa "kehidupannya" akan berakhir sebentar lagi. Sempat ia tergoncang beberapa
saat, namun akhirnya ia mampu bangkit dan justru menjadi manusia yang mampu mengakselarasikan hidupnya dengan begitu luar biasa. Dan ia pun menuturkan kata yang lebih kurang sama, "aku ingin bermakna bagi orang lain". itulah yang ia tuturkan di hari-hari terakhirnya di muka bumi ini.
kisah ini terekam dengan begitu indah dalam buku berjudul "Tuesday with Morrie" (telah diterjemahkan ke indo dengan judul "Selasa bersama Morrie" (terima kasih pada teman yang memberikan saya kesempatan untuk dapat membacanya=D). begitu inspiring.. penuh makna..

Ternyata hal ini senada dengan apa yang pernah nabi katakan, "sebaik-baik manusia adalah manusia yang  paling banyak manfaatnya bagi sesamanya".

mampukah kita menggapai titik tersebut?
atau mungkin kita sudah cukup berpuas diri dengan apa yang ada pada diri kita saat ini?
itu semua dikembalikan kepada diri kita sendiri..
mari maknakan diri secara lebih berarti.

mari kita lihat lebih dekat lagi…

November 24th, 2006 by rezaaja

dengan namaMu aku berlindung…

pagi itu saya berjalan melintasi jalan yang biasa kulewati untuk menikmati makanan pagiku beberapa saat setelah sampai di kampus tercinta…
sepertinya bapak tukang bubur ayam sudah paham kalau aku sudah mengacungkan satu jariku.. itu artinya, bubur ayamnya satu pak..
pagi itu terasa berbeda…
tadi malam, baru saja dilaksanakan sebuah acara musik ala mahasiswa psikologi..
ramai… dan tampaknya cukup sukses untuk sebuah acara yang baru diadakan untuk pertama kalinya..
sayangnya, kini sampah berkeliaran di mana-mana…
gelas-gelas aqua bekas.. plastik-plastik.. dan lain sebagainya berlimpahan di sekitar kampus..
dan tidak ada satu pun yang peduli..
kami memang terbiasa untuk membiarkan seorang ibu yang sudah tua renta untuk membersihkan kampus kami bersama dengan 2 orang rekan mudanya..

melihat ini semua, teringat akan apa yang aku saksikan beberapa waktu yang lalu..
aku katakan pada salah seorang adik kelasku tadi malam,
pernahkah engkau meluangkan waktumu untuk dapat hadir di kampus pada pukul 6 pagi?
di sana kamu dapat menyaksikan seorang bapak dengan kacamata silindris yang tebal menyapu seluruh jalanan sekitar pakilun (istilah yang kami gunakan untuk tempat mangkal para pedagang yang ada di dekat kampus)…
sejak fajar ia bekerja…
bersama dengan istrinya, berdua ia membersihkan semuanya..
begitu datang pagi hari, ketika deru mobil mahasiswa mulai masuk melintasi parkiran kampus kami, maka area tersebut sudah bersih..
kemudian kembali kotor di sore harinya ketika kampus usai..
dibersihkan kembali pagi harinya, dikotori lagi, dan begitu seterusnya tiada pernah henti..
pernahkah kita tau berapa bayaran yang diterima oleh bapak tersebut atas kerja kerasnya tersebut?
apakah kita yakin bahwa bayaran yang ia dapatkan jauh lebih besar dibandingkan uang jajan yang kita dapatkan dari ayah dan ibu kita?

dan pagi itu, setelah sekian lama.. saya kembali melihatnya..
dengan baju batik lusuh yang sepertinya hanya satu-satunya ia miliki, ia membantu mengambilkan 2 ember air dengan sebuah kayu di pundak kanannya..
lelah tampak di raut wajahnya..
sepatunya bolong… mungkin karena terlalu lama ia kenakan…
setelah itu, ia lihat sekeliling dan melihat sebuah botol aqua yang tercecer di jalan maka ia masukkan ke dalam kotak sampah..
sungguh terharu aku melihatnya…
ingin sekali aku menanyakan padanya, "pak sudah makan belum?? mari makan bersama saya…"
namun aku hanya bisa terdiam menyaksikan kebodohanku sendiri…
aku malu untuk melakukan kebaikan, namun seringkali tidak berpikir panjang dalam melakukan keburukan…
tak terasa hidungku mulai sembab..
mataku mulai basah..
tak nafsu lagi sebenarnya aku menghabiskan bubur ayam yang berada di atas tangan kiriku…
hilang sudah laparku…
aku ini siapa?
mengapa ia harus menerima nasib seperti itu?
begitu banyak hal yang ia kerjakan.. namun hampir tidak ada yang memperhatikannya..
atau mungkin hanya sekedar untuk mengucapkan "terima kasih pak…"

tertegun aku dari kejauhan…
aku ikuti gerak-geriknya..
langkahnya terlihat gontai..
perlahan aku berdoa dalam hati…
Ya Rabb, muliakan bapak ini… muliakan bapak ini…
berikan rizki yang cukup kepadanya..
rahmati dia…
dan perlahan ia pun mulai menghilang ke kejauhan…

setelah itu aku bangkit dari dudukku dan berjalan perlahan..
tak berani kutatap mataku ke atas..
aku hanya berjalan menatap ke bawah menuju ruang kuliahku..
malu aku melihat diriku sendiri..

kumasuki ruang kuliah, dan ternyata belum ada siapa-siapa..
hanya dosenku yang sedang berbicara lewat telepon genggam yang ia miliki..
padahal ini sudah pukul 9!
bukankah kuliah hari ini mulai pukul 9?
sekitar pukul 1/2 10 barulah kami mulai perkuliahan hari itu..
hilang sudah sebenarnya semangatku..
mataku begitu ngantuk karena harus bergadang tadi malam..
absensi belum diambil..
maka aku menyediakan diri untuk mengambilnya seorang diri..
aku pikir mungkin aku bisa sejenak menghirup udara segar di luar ruangan kelas..
maka kakiku melangkah ke ruang SBP (sub bagian pendidikan)..
ternyata absensinya tidak ada..
temanku menyusulku ke ruangan itu..
kami diminta untuk membuat absen tersebut di atas secarik kertas..

aku katakan pada temanku, "aku ingin cari angin dulu.."
ternyata ia pun ingin membeli gorengan terlebih dahulu..
ketika aku terduduk…
tak sengaja kulihat seorang ibu paruh baya yang tidak asing bagiku sedang menyapu seorang diri…
maka perlahan kudekati dia..
aku meminta maaf karena acara tadi malam telah menyisakan banyak sampah berserakan di sekitar kampus..
kemudian aku pun bertanya mengapa ia hanya sendirian? ke mana rekannya yang lain yang biasa membantunya…
maka ia pun mulai bercerita..
bahwa yang lain itu malas.. kalau diingatkan, alasannya selalu sama: lupa.
padahal bila dibandingkan dengan ibu di hadapanku ini,
mereka jauh lebih muda…
seharusnya jauh lebih kuat dan sehat..
memang kita yang muda seringkali kalah pada yang tua..

maka aku pun menawarkan diri untuk membantunya menyapu teras kampus..
tanpa pikir panjang lagi, maka aku pun segera mengambil sapu lidi yang tergeletak di bawah..
pikirku, kuliah kutunda dulu…
ini jauh lebih penting dibandingkan tumpukan teori yang selalu kudapatkan di kelas tanpa pernah sempat kuterapkan dalam hidupku..
pokoknya masa bodo, pikirku..
aku mau membantu ibu ini menyapu..
temanku yang baru datang membawa gorengan, memutuskan untuk ikut membantuku menyapu teras kampus kami..
ternyata lelah juga ya?
selama ini, saya hanya bisa mengotori..
dan jarang sekali menyempatkan diri untuk membersihkannya..
baru terasa saat itu oleh ku, seperti apa rasanya menyapu teras kampusku..
butir keringat pun mulai bermunculan di keningku, dan membasahi bagian belakang baju kemejaku..
tapi aku senang…
aku tidak peduli dengan apa kata orang-orang di sekitarku..
kuluruskan niatku untuk membantu ibu ini membersihkan kampusku sendiri..
setelah itu selesai, maka aku pun pamit dan segera memasuki kelas…
maka aku pun kembali duduk di kursi itu..
sambil sesekali memejamkan mataku,
atau merebahkan kepalaku ke atas meja di hadapanku..
itulah aku=D

membacanya kembali…

November 18th, 2006 by rezaaja

Ada satu hal yang saya sukai setiap kali saya selesai menulis…
hal yang biasa saya lakukan ini adalah "membacanya kembali"..
menakjubkan memang..
ketika kita bisa memahami diri sendiri lewat tulisan yang kita buat sendiri..
seperti orang gila sih… kadang-kadang…
kadang topiknya terlalu berat, tapi seringkali menarik (haha… menghibur diri=b)
mungkin kebanyakan orang tidak mengerti apa yang kita tulis..
dan seharusnya kita lah yang paling tahu apa yang kita tulis bukan?=D

ketika tulisan itu jadi,
saya bisa mengetahui apa yang sebenarnya saya tulis tadi…
tepatnya, seperti apa kondisi saya saat ini.
terkadang langsung setelah itu, tapi mungkin lebih menyenangkan untuk diendapkan terlebih dahulu dan kita baca beberapa hari  kemudian..

lihat aja banyak titik-titik…
haha…
ga ada abisnya…

terima kasih Tuhan=D